logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Untag Surabaya Kenang Bung Karno, Gelar Sarasehan Kebangsaan

Masih dalam peringatan Bulan Bung Karno dan Bulan Pancasila, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya sebagai Kampus Nasionalis kembali menggelar Sarasehan Kebangsaan Nasional. Kegiatan pada Selasa, (21/6) mengusung tema ‘Jiwa Patriotik dan Nasionalis untuk Memperkokoh Kebangsaan menuju Indonesia Maju dan Membangun Peradaban Dunia’. Digelar secara hybrid dengan luring terbatas di Auditorium Gedung Pusat Yayasan dan Rektorat lt.6, yang menghadirkan 2 Narasumber yakni berasal dari Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) dan Pendiri Institute for Syriac Culture Studies (ISCS) dan untuk peserta merupakan Mahasiswa Untag Surabaya dan Dosen serta Pejabat struktural YPTA Surabaya.

Ketua Unit Mata Kuliah Umum Dr. IGN Anom Maruta, MM. hadir secara langsung untuk menyampaikan laporan kegiatan Sarasehan Kebangsaan. Anom menuturkan bahwa Sarasehan Kebangsaan Nasional rutin digelar setiap tahunnya. “Bulan yang sakral bagi kita semua. Sebagai anak bangsa dan bagian dari Kampus Merah Putih kita diberi tugas untuk menjaga, mengamankan dan mengamalkan Pancasila,” paparnya. Selain itu, Anom mengajak peserta terus berkomitmen dalam merawat Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. “Komitmen kita tidak boleh luntur untuk terus menjaga, mengamankan mengamalkan Pancasila pada masyarakat, termasuk dalam menghadapi permasalahan bangsa, karena Pancasila ada” ajaknya.

Melalui sambutan, Rektor Untag Surabaya - Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, MM. CMA. CPA juga membuka acara Sarasehan kebangsaan serta mengajak para peserta untuk mengenang atas semangat sang Bapak Proklamator. “Bung Karno pernah berkata, warisi apinya, jangan abunya. Artinya jiwa semangat kita harus terus menggelora dan dikobarkan. Apalagi kita merupakan Ketua Untag se-Indonesia, kampus nasionalis yang selayaknya melahirkan pemimpin nasionalis,” katanya. Prof. Nugroho pun menegaskan pentingnya dalam menerapkan kerukunan untuk memajukan Indonesia. “Mari menyalakan semangat menjaga Pancasila demi persatuan dan kesatuan serta kerukunan. Terus semangat berinovasi untuk memajukan indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua YPTA Surabaya – J. Subekti, SH., MM. tampil sebagai keynote speaker menerangkan bahwa Surabaya merupakan dapur nasionalisme. “Bung Karno lahir di Surabaya. Dari Kota Pahlawan ini lahir para pejuang, Bung Tomo yang memimpin Budi Utomo dan Arek-Arek Suroboyo yang mengusir penjajah,” terangnya. Menurut Subekti, generasi muda memiliki kewajiban moral untuk menyalakan perjungan Bung Karno. “Tidak mudah untuk melanjutkan, banyak hambatan dan kendala yang akan dihadapi. Banyak orang yang nasionalis tapi belum patriotis. Mahasiswa harus jadi pejuang pemikir namun bukan pemikir yang egois,” tuturnya.

Sarasehan yang dimoderatori oleh Dosen Prodi Administrasi Publik Untag Surabaya - Dr. Bambang Kusbandrijo, MS ini menghadirkan Narasumber Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) - Prof. Dr. Hariyono, M.Pd.. Dalam kesempatan ini, Prof Hariyono menjelaskan bahwa Pancasila merupakan pemersatu bangsa Indonesia dengan segala keragamannya. “Jika mahasiswa punya sifat toleransi. Misalnya bisa kerjasama dengan etnis berbeda, maka itu bisa disebut Pancasilais,” jelasnya. Prof. Hariyono menyebutkan bahwa rasa cinta tanah air harus dimiliki bangsa Indonesia sebagai proyeksi dari belajar sejarah. “Untuk mewujudkannya, kita harus Sakti, yakni dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita juga harus Budi, artinya memiliki karakter. Terakhir, harus Bakti yaitu nasionalis,” sebutnya.

Disambut oleh pembicara kedua, dari Pendiri Institute for Syriac Culture Studies - Dr. Bambang Noorsena, M.H. mengatakan bahwa warisan peradaban menjadi penting untuk membangun suatu bangsa. “Negara dengan warisan peradaban akan sukses membangun bangsanya. Negara yang memiliki warisan kemajemukan akan jauh lebih arif, terampil dan piawai mengelola perbedaan. Kita menjadi salah satunya,” ungkapnya. Bambang menyayangkan politisasi agama yang masih kerap dihadapi oleh Indonesia. “Konteks Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila dirumuskan tanpa egoisme agama. Kita harus menempatkan agama di hati rakyat dan meredam egoisme agama agar Indonesia segar kembali seperti hijaunya sawah nusantara,” tutupnya. (um/rz)



PDF WORD PPT TXT