logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Ungkap Sisi Lain Kasus Ryan Jombang melalui Bedah Buku

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar bedah buku bertajuk ‘RYAN: Transformasi sang Jagal Jombang’ pada Kamis. Buku karya jurnalistik yang ditulis oleh Doan Widhiandono dan Noor Arief Prasetyo ini berangkat dari kasus Ryan Jombang yang sempat menggemparkan publik pada 2009 silam diangkat ke dalam berbentuk buku. Bedah buku digelar secara daring dan dimoderatori oleh Dinda Lisna Amilia, S.Sos., MA. serta diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi lintas angkatan.

Dosen Ilmu Komunikasi Untag Surabaya - Doan Whidiandono, S.Sos., M.I.Kom. penulis buku mengaku bahwa buku tersebut merupakan jawaban atas tugasnya sebagai jurnalis. “Sebagai Dosen, saya tidak menanggalkan tugas sebagai jurnalis. Di tempat saya bekerja, Harian DI’s Way, kami memiliki feature yang dibuat panjang dan berseri. Buku Ryan Jombang ini bisa dibilang BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang dibukukan, mulai dari penyidikan sampai pada persidangan,” katanya. Menurutnya nama Ryan Jombang menarik ditulis karena masih memiliki daya tarik. “Punya magnitude besar, kita terbayang kebengisan dan kejahatannya yang memutilasi satu orang dan membunuh sepuluh orang dan menguburkan di belakang rumah,” tutur Doan.

Dalam proses menulis karyanya, Doan mengaku mengalami kesulitan. “News value yang nyantol hanya magnitude. Jadi kami coba mendekati keluarga, Siatun (ibu Ryan) di Jombang yang tidak mudah karena menutup diri pada karyawan,” sebutnya. Lebih lanjut, Doan dan tim masih kesulitan dalam menentukan angle penulisan buku. “Setelah berbagai upaya, bersama ibunya kami mengunjungi Ryan di lapas Gunung Sindur dengan mengaku sebagai keponakan. Dari situ ditemukan angle dan punya sisi human interest yang tinggi, perilaku menyimpang karena keluarga,” terangnya.

Lebih lanjut Doan menuturkan bahwa Ryan telah mentranformasi dirinya selama masa hukuman. “Kami tidak menjustifikasi, kami tampilkan fakta demi fakta di buku bahwa Ryan aktif sebagai tim kesenian di lapas dan menjadi terpidana mati yang bisa keluar lapas untuk delegasi kesenian,” jelasnya. Kendati fakta yang ditampilkan, Doan meyakini banyak keraguan yang muncul dari pembaca. “Bagaimana memverifikasi faktanya? Pasti ada anggapan kalau bisa saja ditipu Ryan. Dia tidak taubat dan itu hanya tampilan fisik. Kembali lagi kita tidak bisa menilai batin, fakta itu sudah dituliskan secara detail jadi terserah pembaca yang menilai,” katanya.

Dosen Ilmu Komunikasi Untag Surabaya - Drs. D. Jupriono, M.Si. tampil sebagai pembedah dan mengapresiasi buku tersebut. “Saya sangat mengagumi karena untuk mengumpulkan data terpidana hukuman mati pasti ada kesulitan bertumpuk. Mendekati keluarga untuk menceritakan sisi personal yang seharusnya ditutup dan meluluhkan hati Ryan agar ikhlas membuka diri tentu tidak mudah,” paparnya. Menurut Jupriono, sisi human interest yang sangat jelas dalam buku mampu mengurangi kadar seram pada kasus Ryan. “Sengaja canda dan warna lokal diselipkan di halaman pembunuhan agar pembaca tidak terseret dalam dunia yang mencekam,” sebutnya.

Pada kesempatan yang sama, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang - Fathul Qorib, S.I.Kom., M.I.Kom. menyoroti perspektif lain yang ditawarkan buku ini pada pembaca. Perspektif yang menarik, manusia bisa berbuat salah tetapi sesadis apapun manusia masih punya awal mula. Bisa terjelaskan (Ryan) melakukan perbuatan itu karena permasalahan keluarga. Buku ini memberi deretan informasi lain yang menarik,” tuturnya. Dia pun mengapresiasi isi buku yang mudah dipahami oleh pembaca. “Buku ini mengalir dan tidak terlalu rumit, mirip novel. Jurnalisme sastrawi yang mengalir pada soft journalism, di balik kisah Ryan apa unsur barunya semua ada di buku ini. Menurut saya feature yang menarik dan penuh dedikasi,” tutup Fathul. (um/rz)



PDF WORD PPT TXT