logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya

An Empowering & Networking University

Detail Berita

Mahasiswa Untag Surabaya Atasi Limbah melalui PKM Cacing Plasma

Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya patut berbangga karena sebanyak 4 Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) lolos pendanaan tahun anggaran 2021. Salah satunya tim yang mengatasi limbah sampah organik melalui budidaya cacing. Mitha Anisa Maulidina yang dihubungi melalui sambungan telepon pada Senin, (24/5) menyebutkan, “Konsep kami adalah cacing plasma. Nah plasma sendiri singkatan dari pembudidaya cacing skala rumahan di mana kami bertujuan untuk mengolah sampah organik yang dihasilkan rumah tangga.” Dalam menjalankan PKM ini, Mitha didampingi oleh Roihan Ikmaludin dan Reza Ahmad Muhibbuddin Shofa sebagai anggota.

Mitha mengaku bahwa dia dan timnya tidak memiliki latar belakang kewirausahaan. Ide untuk mengembangkan bisnis cacing plasma, tutur mahasiswi kelahiran Tasikmalaya ini, berawal dari pengamatan timnya terhadap tren masyarakat berkebun dan berternak selama pandemi COVID-19. “Permasalahan yang terjadi khususnya di Kota Surabaya yaitu presentase sampah organik yang semakin meningkat dan belum banyak dimanfaatkan. Hal ini menjadi peluang dan kami jadikan sebagai dasar dalam membuat usaha Cacing Plasma yang kemudian diajukan di PKM Kewirausahaan.”

Melalui PKM Cacing Plasma, Mitha dan timnya melakukan pengembangan kapasitas budidaya cacing tanah. “Kami menciptakan pembudidaya cacing skala rumahan untuk mengolah sampah organik yang dihasilkan di rumah,” katanaya. Untuk melakukan pengembangan tersebut, mereka mencari warga sekitar rumah produksi yang mau bekerjasama dalam mengolah sampah organic dengan budidaya cacing. “Kami juga mencari kampung di Surabaya yang memiliki kesadaran terhadap lingkungan, sehingga bisa menciptakan peternak cacing plasma yang lebih banyak,” terang Alumni SMA Negeri 19 Surabaya ini.

Produk yang ditawarkan adalah cacing tanah dan pupuk organik bekas cacing. Meski demikian, Mitha menerangkan bahwa inovasi yang dilakukan bukan pada kedua produk tersebut, namun kepada metode budidaya dan sistem usaha. Dengan keilmuan yang dimiliki, Mitha dan timnya berupaya memaksimalkan kontribusi, “Kami mengimplementasikan keilmuan Arsitektur pada penerapan tempat budidaya cacing yang biasanya hanya bisa dilakukan di daerah dingin, namun bisa dilakukan di perkotaan yang panas dan padat penduduk.” Prosesnya sendiri dirampungkan selama dua bulan.

Untuk lolos pendanaan hingga tingkat nasional, kata Mitha, timnya harus mengikuti serangkaian seleksi mulai tingkat fakultas, universitas hingga nasional, “Kami juga mengikuti bimbingan. Selama penyusunan proposal ya ada perbedaan pemikiran dan pendapat. Susahnya karena belum bisa bertemu secara offline untuk meyusun PKM ini.” Meski demikian, hal tersebut menjadikan mereka tertantang untuk memberikan kebermanfaatan pada masyarakat. “Semoga semakin banyak permasalahan sampah organik yang dapat kami bantu selesaikan, “tutup anak sulung dari tiga bersaudara ini. (um)



PDF WORD PPT TXT