logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Live Interaktif RRI Surabaya, Kepala PLP Untag Surabaya Jelaskan Kecemasan Bicara

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketakutan terbesar pertama yang dialami banyak orang adalah berbicara di depan umum. Kecemasan menjadi faktor utamanya. Meski demikian, setiap orang mengalami hal yang berbeda-beda. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Pusat Layanan Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya - Bawin Sri Lestari, SH., M.Psi., CPS. saat menjadi narasumber di RRI Surabaya dalam program Lintas Surabaya Siang bertema ‘Kecemasan Berbicara’. Live Interaktif pada Kamis lalu ini dimoderatori oleh Aska Ariska sebagai host.

Dosen yang akrab disapa Winda ini menuturkan bahwa dia telah lama aktif dalam dunia public speaking dan kerap mengalami kecemasan. Berbekal pengalaman tersebut, saat ini dirinya tengah menyusun disertasi dengan tema kecemasan berbicara di depan umum. “Awalnya saya berfikir kok tema disertasi kok biasa saja ya. Ternyata public speaking ini booming serta menggabungkan psikologi dan komunikasi,” tuturnya. Dia menyebutkan bahwa kecemasan dapat mempengaruhi beberapa aspek. “Ada aspek afektif, kognitif, fisiologis hingga behavior. Berbeda setiap orang. Bisa mengalami salah satu, bahkan bisa dialami semua,” sebutnya.

Winda menjelaskan bahwa dengan perbedaan kecemasan yang dialami oleh setiap orang, maka penanganan yang diberikan pun berbeda. “Ada orang yang ketika diminta berbicara depan umum bilang lebih baik saya mati. Ada yang mual dan badan panas. Dampak berbeda dirasakan orang berbeda. Treatment pun berbeda,” jelasnya. Menurutnya, kecemasan merupakan hal yang wajar untuk dialami. “Bahaya jika tidak merasakan kecemasan, terlalu cemas juga berbahaya. Kalau tidak mempunyai kecemasan maka akan meremehkan. Padahal lebih baik menyiapkan. Jadi lebih baik kecemasan itu di level sedang-sedang saja,” katanya.

Saat ditanya tentang penyebab kecemasan, Winda mengatakan faktor internal maupun eksternal dapat berpengaruh. “Bagi beberapa orang, berbicara di depan umum itu menantang diri karena butuh kesiapan mental. Kepercayaan diri ini penting, bagaimana orang percaya dengan kita kalau tidak percaya diri,” tegasnya. Winda menyoroti orang yang cenderung introvert. “Berdua saja tidak mau, apalagi berbicara di depan umum, pasti menarik diri. Kalau tidak mau berusaha maka tidak akan bisa. Secara eksternal sudah diberi motivasi namun internal tidak menerima maka tidak bisa,” paparnya.

Dosen Fakultas Psikologi Untag Surabaya ini menyatakan bahwa audiens menjadi penyebab kecemasan eksternal. “Secara eksternal, lebih ke audiens. Cemas pasti ada saat melihat audiens. Lima menit pertama wajar nervous, setelah itu sudah biasa,” terangnya. Oleh karena itu, persiapan, sebut Winda, menjadi aspek penting untuk mengurangi kecemasan. “Harus mempelajari audiens, mematangkan materi. Persiapan materi penting, saya biasanya membuat poin yang akan disampaikan. Kalau memang setelah latihan tapi masih cemas, perlu dicari akal masalahnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Winda menyebutkan bahwa kepakaran juga penting saat berbicara di depan publik. “Harapan terlalu tinggi bisa membuat orang jadi cemas, sehingga topik harus berkaitan dengan kemampuan kita, jika tidak maka tidak elok dan justru bisa di cap asal bunyi. Jadi harus expert,” katanya. Dia pun menegaskan pentingnya komunikasi terlebih dengan panitia mengingat berbicara di depan umum merupakan kecemasan sosial. “Esensi komunikasi itu harus saling pengertian. Etika, kredibilitas dan emosi harus dipertimbangkan. Bahasa apapun tak masalah, asal dipahami,” tutup Winda. (um/rz)



PDF WORD PPT TXT