logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Bahas Implementasi Pancasila di Bidang Pendidikan, Badan Pengkajian MPR Gandeng Untag Surabaya

Kesadaran dalam implementasi Pancasila di bidang pendidikan tinggi masih terus ditingkatkan di tengah para akademisi dan pemerintah. Menanggapi hal tersebut, Badan Pengkajian MPR RI menggandeng Untag Surabaya dalam Focus Group Discussion bertema ‘Implementasi Ideologi Pancasila dalam Praktek Tri Dharma Perguruan Tinggi’. Pasalnya, Untag Surabaya sebagai Kampus Nasionalis secara konsisten menerapkan Pancasila dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. FGD pada Jumat, (3/12) ini diikuti oleh empat Guru Besar dan delapan Dosen Patriotisme di lingkungan Untag Surabaya selain itu Maria Goreti, S.Sos., M.Si. Anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI juga turut hadir.

FGD ini dimulai secara langsung oleh Ketua Badan Pengkajian MPR RI – Drs. H. Djarot Saiful Hidayat, M.S. “Bukan hanya kurikulum tapi dalam penelitian juga harus mengacu pada ideologi Pancasila. Pengabdian masyarakat pun mengaplikasikan Pancasila, sehingga jadi satu kesatuan,” tukasnya. Pancasila bukan sekedar tertulis, jargon dan dipidatokan. Ideologi harus diperjuangkan dipraktekkan agar menjadi ideologi yang hidup, bukan hanya di atas kertas. Menurutnya implementasi Pancasila harus mencakup keseluruhan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Hal senada dipaparkan oleh Rektor Untag Surabaya – Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA., CPA., untuk terus membumikan Pancasila demi keberlanjutan bangsa Indonesia. “Kita dianugerahi pondasi Indonesia sebagai panutan untuk menjaga harapan masyarakat yang majemuk. Sadar akan pentingnya Pancasila.” Prof. Nugroho juga menegaskan Untag Surabaya menerapkan Pancasila dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pengurus YPTA Surabaya – J. Subekti, SH., MM. Juga menyampaikan setuju jika nilai Pancasila diterapkan, pendidikan harus dimulai dengan karakter, karakter itu Pancasila bukan yang lain.

Dari perspektif Sosial Politik, Prof. Dr. Agus Sukristyanto, MS. menegaskan bahwa Pancasila harus menjadi bahan diskusi baik formal maupun informal. “Pancasila harus didiskusikan secara terbuka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mengamalkannya harus ada roadmap dan berfokus pada nilai-nilainya.” Di bidang pendidikan, Prof. Dr. V. Rudy Handoko, MS. bersyukur karena penerapan Merdeka Belajar Kampus Merdeka telah menerapkan Pancasila, “Dengan MBKM berbasis Pancasila, maka implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi terintegrasi satu sama lain.”

Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog menyoroti pentingnya keteladanan, “Dalam pendidikan penting untuk afektif kemampuan empati dan tolerasi, bukan kognitif. Jangan berbicara wacana akan bahaya, kita harus melakukan action untuk menumbuhkan nilai kebangsaan.” Senada dengan hal tersebut, Dr. Ir. Sajiyo, M.Kes. mengatakan bahwa teladan pemerintah perlu untuk rakyat kecil, “Teladan itu penting. Jangan sampai yang di atas (pemerintah) bersatu kita teguh, yang di bawah (rakyat) masih gegeran dewe.”

Adapun mengulik dari perspektif Ekonomi dan Bisnis, Prof. Dr. Tri Ratnawati, MS.Ak., CA., CPA., membahas bahwa ekonomi sektoral harus dicanangkan kedalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) karena GBHN berharap masyarakat tidak miskin. Pada kesempatan yang sama, Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA. menambahkan, “Pancasila bisa diterima di semua kalangan asal tidak ada kepentingan golongan. Konten diubah, media juga berubah. Teknologi yang dalam hitungan detik berubah.”

Dr. Slamet Suhartono, SH., MH. yang banyak membahas perspektif Hukum merekomendasikan, “Coba kembalikan lagi, wujudkan pancasila sebagai pedoman untuk diamalkan seperti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Harus dimasukkan dalam GBHN agar ketika terjadi perubahan kepemimpinan, tidak berganti kebijakan. Wajib mengajarkan pancasila dalam setiap tingkatan pendidikan.” Adapun menurut Dr. Syofyan Hadi, SH., MH., Pendidikan Pancasila perlu diwajibkan juga untuk tataran S2 dan S3.

Dr. IGN Anom Maruta, MM. memaparkan, “Di Untag Surabaya juga ada lima basis nilai yang mendasari kami, bagaimana mengintegrasikan nilai pancasila dalam nilai tersebut.” Dr. Bambang Kusbandrijo, MS. menegaskan, “Kedisiplinan dosen (dalam menerapkan lima basis nilai) menjadi penting, karena menjadi contoh bagi mahasiswa.” Tak hanya di bidang pendidikan, Aris Heri Andriawan, ST., MT. menyebutkan bahwa Untag Surabaya turut menerapkan Pancasila dalam penelitian dan pengabdian masyarakat. (um/rz)



PDF WORD PPT TXT