logo-untag-surabaya

Developed By Direktorat Sistem Informasi YPTA 1945 Surabaya

logo-untag-surabaya
logo-untag-surabaya

Detail Berita

Andik Matulessy Ikuti Pembukaan Taplai Kebangsaan dan ToT Lemhannas

Sebanyak tiga dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya lolos dalam program Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainer/ ToT) yang digelar oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI). Salah satu dosen terpilih, Dr. Andik Matulessy, M.Si, Psikolog berkesempatan menghadiri Pembukaan Kegiatan Pembinaan dan Pelaksanaan Pemantapan Nilai-nilai (Taplai) Kebangsaan serta Pelatihan untuk Pelatih di Gedung Dwi Warna Purwa Lemhannas RI , Jakarta Pusat. Kegiatan pada Senin, (7/6) ini dilaksanakan secara hybrid dan diikuti secara virtual oleh tak kurang dari 400 peserta dari berbagai penjuru Indonesia.

Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainer/ ToT) yang digelar oleh Lemhannas RI ini ditujukan pada tenaga pengajar seperti guru, dosen dan widyaiswara. Saat ditemui pada Kamis, (9/6), Dosen Fakultas Psikologi Untag Surabaya-Dr. Andik Matulessy, M.Si, Psikolog yang terpilih sebagai peserta memaparkan, “Dari ToT ini akan jadi trainer ke sekolah maupun kampus agar bisa menyebarluaskan nilai kebangsaan, mulai pendidikan dasar, menegah hingga Pendidikan tinggi.” Andik sendiri merupakan peserta angkatan 1 dan akan mengikuti ToT pada 22-30 Juni 2021. “Tahun 2021 ini ada 4 angkatan, masing-masing 100 peserta. Saat pembukaan kemarin, setiap angkatan diwakili 5 orang, saya termasuk perwakilan angkatan 1,” tambahnya.

Sebelum terpilih sebagai peserta, dosen yang menjabat Ketua Pusat Layanan Psikologi Untag Surabaya ini mengikuti seleksi. “Saya kurang tau pastinya, tapi kami mengisi Google Form terkait beberapa hal yang bisa dinilai. Apakah punya latar belakang tertentu dan punya nilai kebangsaan,” jelas Andik. Dia menambahkan, “Sekarang semua dilihat online. Jadi dipastikan tidak ada masalah SARA, pornografi dan radikalisme.” Dia menuturkan, “Motivasi saya bagaimana dalam konteks sekarang mengajarkan nilai kebangsaan agar diterima generasi milenial, ini kan agak susah ya.” Menurutnya, generasi milenial yang cakap informasi menjadi tantangan tersendiri, “Harapannya walau mereka mengikuti modernisasi, tapi tidak lepas dari nilai kebangsaan.”

Penanaman nilai kebangsaan dalam ToT yang akan diterapkan oleh Andik diawali pada Kampus Merah Putih. “Lebih di internal perguruan tinggi dulu. Di Jawa Timur juga tidak banyak (dosen) yang diterima (sebagai peserta ToT), jadi bisa tidak hanya di Untag (Surabaya) tapi juga kampus lain,” terang Andik. Menurutnya, nilai kebangsaan tidak hanya tentang nasionalisme dan radikalisme, “Konteks kecil seperti kedisiplinan dan kebersihan juga menjaga bangsa dan negara. Penanaman nilai kebangsaan seperti ini bisa dimulai sejak kecil.” Jepang, sebut Andik, mampu memadukan tradisional dengan modernisasi, “Di Jerman juga serupa. “Anak kecil mencari zebra cross baru kemudian nyebrang, dia membawa sampah sampai ketemu tempat sampah.”

Lebih lanjut Andik menekankan pentingnya proses sosialisasi dan internalisasi, misalnya nilai kebangsaan harus masuk dalam konteks kuliah dan inherent dalam proses apapun, “Mata kuliah apapun harus ada unsur bahwa kita bangga bangsa kita. Kedisiplinan dan kejujuran, itu yang harus bisa ditanamkan sejak awal. Tidak harus ikut perang, patuh protokol kesehatan, itu contoh bela negara.” Sebagai dosen Kampus Nasionalis, dirinya berharap Untag Surabaya dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya baik secara akademis, namun juga menjadi bagian penting perubahan negara. “Semoga lulusan Untag Surabaya bisa mewarnai nilai kebangsaan. Hal ini sangat penting karena menjadi bagian dari visi misi Untag Surabaya,” tutupnya. (um)



PDF WORD PPT TXT