Selasa, 27 Juli 2010 diposting pada kategori BERITA | arsip berita
Puji Astutik; Rancang Revitalisasi Makam Peneleh
Puji Astutik; Rancang Revitalisasi Makam Peneleh
Diawasi Hingga Dikuntit
Dengan detil Puji Astutik, mahasiswa jurusan arsitektur Universitas 17 Agustus 1945(Untag) Surabaya itu menunjukkan perancangan revitalisasi kompleks makam Peneleh yang disusunnya.
“Ini adalah keadaan (makam) sekarang,” katanya sambil menunjukkan beberapa foto yang diambilnya untuk melengkapi tugas akhirnya yang berjudul Revitalisasi Makam Peneleh di Surabaya sebagai Ruang Publik dan Ruang Terbuka Hijau Kota.
Batu nisan yang sedianya kokoh bertuliskan nama jenasah yang dikuburkan di situ tampak tak terawat, bopeng di sana-sini, bahkan tak sedikit yang hampir rata dengan tanah.
Keinginannya untuk bisa merancang fasum yang bernilai historis mendorongnya untuk menyusun tugas akhir ini. Selain untuk menyelamatkan bangunan bersejarah yang dibangun tahun 1814 ini, Puji ingin makam itu menjadi obyek wisata. “Tadinya saya ingin menyusun karya tentang Pasar Bunga kayun,” katanya. Tapi Puji mengaku lebih suka akan nilai sejarah makam Peneleh yang sangat tinggi.
Sayang kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. “Ya beginilah. Dibawah makam, di atasnya ada jemuran, warung, bahkan rumah tinggal,” ceritanya sambil menunjukkan salah satu foto.
Salah satu foto yang ditunjukkannya adalah makam Pieter Merkus, Gubernur Jenderal ke-47 Hindia Belanda yang berkuasa pada periode 1841-1844. Sang gubernur meninggal pada usia 57 tahun dan dimakamkan di Peneleh.
Dalam rancangannya ini Puji inginmenghapus kesan angker dengan memperbarui sejumlah bangunan di kompleks itu.
Sedangkan obyek wisata yang ingin dia aplikasikan adalah outdoor study area, memoriam wall, dan rest area.
Di chapel theater, Puji berencana menyediakan tempat duduk yang mengelilingi tempat itu, mirip gedung teater. “Nantinya tempat ini bisa dipakai untuk pemutaran film,” katanya.
Makam-makam yang rusak akan diubah menjadi outdoor study area. “Di situ akan dibangun lorong terbuka dan memoriam wall,” terang ibu seorang putri ini.
Sementara itu, di rest area akan dibangun gazebo dan taman bergaya kolonial. Dan di zona terbuka hijau akan ditambahkan banyak pohon.
Tugas akhir yang mengantarkannya meraih nilai A ini disusunya dengan mudah. Tak sedikit kesulitan yang menghalanginya. Empat bulan ia harus bolak-balik ke kantor dinas terkait untuk mencari data siapa saja yang dimakamkan di Peneleh.
Puji menceritakan pengalaman yang paling ngeri saat survei lapangan pertama. Tak hanya pandangan curiga yang didapatnya tapi juga dikuntit oleh orang-orang tak dikenal. “Karena itulah saya selalu minta teman saya untuk menemani,” ujarnya.(humas)
Diawasi Hingga Dikuntit
Dengan detil Puji Astutik, mahasiswa jurusan arsitektur Universitas 17 Agustus 1945(Untag) Surabaya itu menunjukkan perancangan revitalisasi kompleks makam Peneleh yang disusunnya.
“Ini adalah keadaan (makam) sekarang,” katanya sambil menunjukkan beberapa foto yang diambilnya untuk melengkapi tugas akhirnya yang berjudul Revitalisasi Makam Peneleh di Surabaya sebagai Ruang Publik dan Ruang Terbuka Hijau Kota.
Batu nisan yang sedianya kokoh bertuliskan nama jenasah yang dikuburkan di situ tampak tak terawat, bopeng di sana-sini, bahkan tak sedikit yang hampir rata dengan tanah.
Keinginannya untuk bisa merancang fasum yang bernilai historis mendorongnya untuk menyusun tugas akhir ini. Selain untuk menyelamatkan bangunan bersejarah yang dibangun tahun 1814 ini, Puji ingin makam itu menjadi obyek wisata. “Tadinya saya ingin menyusun karya tentang Pasar Bunga kayun,” katanya. Tapi Puji mengaku lebih suka akan nilai sejarah makam Peneleh yang sangat tinggi.
Sayang kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. “Ya beginilah. Dibawah makam, di atasnya ada jemuran, warung, bahkan rumah tinggal,” ceritanya sambil menunjukkan salah satu foto.
Salah satu foto yang ditunjukkannya adalah makam Pieter Merkus, Gubernur Jenderal ke-47 Hindia Belanda yang berkuasa pada periode 1841-1844. Sang gubernur meninggal pada usia 57 tahun dan dimakamkan di Peneleh.
Dalam rancangannya ini Puji inginmenghapus kesan angker dengan memperbarui sejumlah bangunan di kompleks itu.
Sedangkan obyek wisata yang ingin dia aplikasikan adalah outdoor study area, memoriam wall, dan rest area.
Di chapel theater, Puji berencana menyediakan tempat duduk yang mengelilingi tempat itu, mirip gedung teater. “Nantinya tempat ini bisa dipakai untuk pemutaran film,” katanya.
Makam-makam yang rusak akan diubah menjadi outdoor study area. “Di situ akan dibangun lorong terbuka dan memoriam wall,” terang ibu seorang putri ini.
Sementara itu, di rest area akan dibangun gazebo dan taman bergaya kolonial. Dan di zona terbuka hijau akan ditambahkan banyak pohon.
Tugas akhir yang mengantarkannya meraih nilai A ini disusunya dengan mudah. Tak sedikit kesulitan yang menghalanginya. Empat bulan ia harus bolak-balik ke kantor dinas terkait untuk mencari data siapa saja yang dimakamkan di Peneleh.
Puji menceritakan pengalaman yang paling ngeri saat survei lapangan pertama. Tak hanya pandangan curiga yang didapatnya tapi juga dikuntit oleh orang-orang tak dikenal. “Karena itulah saya selalu minta teman saya untuk menemani,” ujarnya.(humas)











