Selasa, 04 Mei 2010 diposting pada kategori BERITA | arsip berita
Kartini 2010
Kartini 2010
(Masih) Termarjinalkan
Hari Kartini yang diperingati 21 April tiap tahunnya rupanya masih belum membawa pencerahan bagi nasib perempuan Indonesia. Isu ini disampaikan dalam diskusi buku Serimpi karya Rohana Handaningrum(mahasiswi magister psikologi Untag)di Graha Wiyata Untag, Rabu(21/4).
Budayawan R. Giryadi memandang karya sastra tentang perempuan masih menempatkan perempuan sebagai sosok termarjinalkan yang sakit dan menderita, serta menjadi korban. Begitu juga yang tertuang dalam Serimpi. Buku kumpulan 10 cerpen ini masih berisi gugatan perempuan seputar pengeksploitasian tubuh.
Dalam bukunya ini, Arum(sapaan Rohana Handaningrum) menggambarkan sosok Serimpi(tokoh utama) yang masih memperjuangkan kesetaran peran sosial. Karya yang seperti inilah yang menunjukkan bahwa perjuangan Kartini masih belum usai. Budaya yang berkiblat pada patriarki mendarah daging dalam masyarakat Indonesia, seakan mengesampingkan geliat prestasi perempuan-perempuan tangguh yang tak kalah dengan lelaki.
Diskusi ini adalah puncak rangkaian acara bertajuk Potret Kehiduan Perempuan yang digelar forum diskusi mahasiswa dan penalaran(Fordimapelar) dan UKM Fotografi Lensa 17 Untag Surabaya. Lomba essai tingkat SMA/K se-Surabaya dan lomba serta workshop fotografi bertema Kartini 2010.(humas)
(Masih) Termarjinalkan
Hari Kartini yang diperingati 21 April tiap tahunnya rupanya masih belum membawa pencerahan bagi nasib perempuan Indonesia. Isu ini disampaikan dalam diskusi buku Serimpi karya Rohana Handaningrum(mahasiswi magister psikologi Untag)di Graha Wiyata Untag, Rabu(21/4).
Budayawan R. Giryadi memandang karya sastra tentang perempuan masih menempatkan perempuan sebagai sosok termarjinalkan yang sakit dan menderita, serta menjadi korban. Begitu juga yang tertuang dalam Serimpi. Buku kumpulan 10 cerpen ini masih berisi gugatan perempuan seputar pengeksploitasian tubuh.
Dalam bukunya ini, Arum(sapaan Rohana Handaningrum) menggambarkan sosok Serimpi(tokoh utama) yang masih memperjuangkan kesetaran peran sosial. Karya yang seperti inilah yang menunjukkan bahwa perjuangan Kartini masih belum usai. Budaya yang berkiblat pada patriarki mendarah daging dalam masyarakat Indonesia, seakan mengesampingkan geliat prestasi perempuan-perempuan tangguh yang tak kalah dengan lelaki.
Diskusi ini adalah puncak rangkaian acara bertajuk Potret Kehiduan Perempuan yang digelar forum diskusi mahasiswa dan penalaran(Fordimapelar) dan UKM Fotografi Lensa 17 Untag Surabaya. Lomba essai tingkat SMA/K se-Surabaya dan lomba serta workshop fotografi bertema Kartini 2010.(humas)











