HomeSejarahFasilitasOrganisasi KemahasiswaanKontak kami
Senin, 18 Januari 2010 diposting pada kategori BERITA | arsip berita

Rano Prasetyo, Perancang Kawasan Tetenger Hari Jadi Surabaya

Rano Prasetyo, Perancang Kawasan Tetenger Hari Jadi Surabaya
Gagal di Sidang Pertama, Blue Print ke-2 Dilirik Bappeko

Jarang ada yang peduli di mana lokasi asal kota Surabaya ini. Nah, Rano justru tertarik membuat tugas akhir (TA) di Jurusan Arsitektur Untag dengan topik Kawasan Tetenger hari jadi Surabaya.

Menurut literature yang dibacanya, delta pertemuan Kalimas dan Kali Jagir adalah titik awal terbentuknya Surabaya. Jadi wilayah sekitarnya, yaitu Jalan Ngagel dan sepanjang Kalimas dan Kali Jagir layak menjadi sebuah kawasan tetenger atau penanda cikal bakal lahirnya Kota Surabaya.
Selama ini masyarakat Surabaya merayakan hari jadi Kota Pahlawan dengan berbagai kegiatan di sekitar Tugu Pahlawan dan Balai Kota saja. Ini karena masih sedikit yang tahu bahwa Surabaya justru bermula dari wilayah pinggiran Kali Jagir Wonokromo.
Kawasan stren Kali Jagir Wonokromo memang sudah tersentuh penghijauan kota. Sudah ada taman bermain dan bersantai bagi masyarakat. Tapi menurut Reno, ini bisa menjadi lebih bernilai dari sekedar taman.
“Kalau hanya taman, kita hanya bisa bersantai saja,” kata mahasiswa angkatan 2002 ini. Dalam disain rancangannya, Rano ingin membuat lokasi itu menjadi sebuah kawasan tetenger hari jadi kota Surabaya. Dilengkapi fasilitas plasa, stan makanan, zona extreme sport, wall climbing, hingga monumen serta fasilitas wisata sejarah.
“Kawasan ini terdiri dari tiga bagian. Pra 31 Mei 1293, momen 31 Mei 1293, dan pasca 31 Mei 1293,” jelasnya.
Pada bagian Pra 31 Mei 1293, yaitu taman di sekitar Jembatan Wonokromo dan Jembatan Jagir, berisi cerita perjalanan Raden Wijaya dan prajurit-prajuritnya dari Kediri ke Ujung Galuh (sebutan untuk kota Surabaya pada masa itu). Di bagian ini akan diwarnai suasana tradisional masa Majapahit. Misalnya dapat ditemui gapura, atap joglo, permainan dengan sentuhan arsitektur gaya tradisional.
Sedangkan pada bagian momentum 31 Mei 1293, Rano ingin menggambarkan semangat perjuangan Raden Wijaya dan pasukannya melawan tentara Tar-tar dari Mongol. “Saya aplikasikan dalam bentuk tugu yang mengadaptasi lingga dan yoni, simbol kesuburan dan kemakmuran Jawa kuno,” terang putra kedua pasangan Ahmad Oebed dan Chofifah ini.
Tugu berbentuk jilatan lidah api yangmembentuk siluet S (Surabaya) itu melambangkan kobaran semangat Raden Wijaya. Di sini juga berdiri patung-patung pertempuran Raden Wijaya melawan pasukan Mongol dan dimenangkan oleh Raden Wijaya, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya kota Surabaya.
Bagian pasca 31 Mei 1293 yang ada disepanjang tepi Kalimas daerah Jalan Ngagel, berkisah perkembangan kota Surabaya mulai dari penjajahan Belanda, Jepang, hingga peristiwa 10 November. Di bagian ini, sentuhan modernisasi mulai dimunculkan tanpa melupakan unsur tradisional Jawa. “Atap joglo saya modifikasi terbalik untuk sentuhan modernnya di bagian gazebo taman,” ujar Rano.

Tak hanya itu, Rano malah sudah merancang sarana transportasi yang cocok untuk menikmati kawasan ini. “Nanti akan ada boat yang membawa pengunjung menyusuri kawasan ini,” ungkapnya. Di ujung rute boat itu ada toko souvenir yang menyediakan segala macam ciri khas Surabaya. “Jadi pengunjung tidak hanya melulu menikmati perjalanan sejarah Surabaya, tapi juga bisa belanja souvenir,” lanjutnya.
Tugas akhir ini sejatinya sudah selesai akhir Juni tahun lalu. Bahkan Rano sudah melalui sidang TA. Namun karena laptop tempat ia menyimpan semua data dan blue print-nya rusak, ia dinyatakan tidak lulus. “Padahal sudah tahap revisi, hanya tinggal mengumpulkan saja,” kenangnya.
Tapi ternyata semua kegagalan itu ada hikmahnya. Rano jadi punya waktu lebih banyak untuk menyempurnakan rancangannya. Dan terbukti, rancangan lengkap itu kemudian menarik perhatian Wakil Rektor II, Dr.RA Retno Hastijanti., MT yang juga penggiat culture heritage Surabaya. “Bu Hasti salah satu penguji TA saya, beliau paling banyak mengkritik,” kata arek Sidoarjo ini. Dari Hasti pula karya ini terdengar oleh Tri Risma, Kepala Bappeko(Badan Perencanaan Pembangunan Kota) Surabaya.
“Kata Bu Hasti karya ini akan di presentasikan di kalangan Bappeko, tapi saya belum tahu detilnya,” ceritanya. Ia berharap kelak rancangannya akan ditindaklanjuti Bappeko agar masyarakat Surabaya dan wisatawan lainnya dapat menikmati kisah perjalanan Kota Surabaya.(humas)
Pilihan Bahasa
English


bukutamu PMB OnLine Blog Dosen SPMB