Selama ini, kaum istri yang berpendidikan rendah dan secara finansial tergantung pada suami dianggap cenderung tidak melawan terhadap kekerasan yang dilakukan suaminya. Sebaliknya, mereka yang berpendidikan cukup dan mandiri secara finansial diyakini berani melawan kekerasan yang dilakukan suaminya.
Namun, anggapan ini terpatahkan oleh penelitian Irma Fauziyanah, mahasiswi Fakultas Psikologi Untag Surabaya melalui skripsinya yang sekaligus menghantarkannya meraih gelar sarjana psikologi pada wisuda yang digelar 4 Januari 2001.
Tingkat pendidikan dan kemandirian finansial tidak berpengaruh karena semua istri yang mendapat kekerasan dari suaminya pasti melawan.
Perbedaannya, istri berpendidikan tinggi melawan dengan kalimat yang relatif lebih halus. Sebaliknya, istri berpendidikan rendah melawan menggunakan medium yang sama seperti yang dipakai suaminya. Misalnya, bila suami mengumpat dengan memakai nama binatang, istri akan membalas dengan menggunakan nama binatang juga.
Perbedaan lainnya terlihat dari keberanian untuk meminta cerai. Sekalipun sama-sama berani melawan, namun istri yang secara financial tidak tergantung pada suami relatif lebih berani mengajukan cerai. Mereka juga berani membalas perlakuan suaminya dengan tindakan yang sama. Misalnya, selingkuh dibalas selingkuh. Sebaliknya, istri yang secara finansial tergantung, biasanya tidak berani mengajukan cerai karena memikirkan nasib anak-anaknya. Mereka tidak percaya diri mengasuh anak-anaknya tanpa bantuan finansial suami.































Merupakan program pendidikan dan pelatihan yang mengajarkan teori dan praktik langsung di dunia industri
Merupakan Program kerjasama Fakultas Hukum Untag Surabaya dengan DPC Assosiasi Advokat Indonesia Surabaya (AAI)
Memuat Info lowongan pekerjaan dari perusahaan-perusahaan relasi... .