Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Mobile Version

Instrumen Akreditasi Program Studi 4.0 Utamakan Output dan Outcome


Selasa, 12 Februari 2019 - 16:28:00 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 254 kali


Kedepan, hasil akreditasi dengan Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 4.0 bukan lagi menggunakan peringkat akreditasi “A” dan seterusnya, melainkan “Unggul”. Status akreditasi sendiri hanya ada terakreditasi atau tidak terakreditasi. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Johny Wahyuadi Sudarsono pada Pelatihan IAPS 4.0 di Ruang R. Soeparman Hadipranoto, Untag Surabaya, Senin (11/02). Salah satu Tim Instrumen Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) itu menuturkan bahwa tidak akan ada lagi peringkat akreditasi seperti dulu. “Nanti akreditasi C itu kita sebut Baik, akreditasi B peringkat akreditasinya adalah Baik Sekali, sedangkan akreditasi A adalah Unggul,” terangnya.

Lebih lanjut, Prof. Johny menjelaskan terdapat beberapa perubahan pada standar dan kriteria instrumen BAN-PT sebelum dan sesudah SN Dikti 2015 (Permenristekdikti No. 44 tahun 2015). Perubahan tersebut yakni kriteria yang digunakan pada IAPS 4.0 berjumlah 9 kriteria. Keseluruhannya yaitu (1) Visi, Misi, Tujuan dan Strategi, (2) Tata Pamong, Tata Kelola dan Kerjasama, (3) Mahasiswa, (4) Sumber Daya Manusia, (5) Keuangan, Sarana dan Prasarana, (6) Pendidikan, (7) Penelitian, (8) Pengabdian kepada Masyarakat, dan (9) Luaran dan Capaian Tridharma. “Pendidikan, penelitian dan pengabdian di perinci saat ini,” tambahnya.

Pada instrumen baru ini berbasis evaluasi diri; menemukenali kekuatan dan kelemahan. Oleh karenanya laporan dalam IAPS 4.0 ini hanya dua; Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Laporan Kinerja Akademik (LKA). “LED menggambarkan status dan analisis capaian masing-masing kriteria sedangkan LKA memuat data capaian indikator kinerja program studi. Jadi jangan pernah menambah atau mengurangi, karenan nanti nilai otomatis nol,” pungkasnya.

Selain itu, seusai dengan Permenristekdikti No 32/2016, BAN-PT mengembangkan instrumen akreditasi yang relevan dengan pengembangan sektor pendidikan tinggi di Indonesia dan mengikuti perkembangan global. Jadi, lebih spesifik untuk berbagai jenis institusi. “Kalau dulu semua instrumen atau borang berlaku sama bagi APT atau APS. Namun yang sekarang berbeda. Kita bagi sesuai dengan kegiatan masing-masing, sesuai dengan jenis pendidikan. Jadi nanti PTS, ya, saingannya dengan PTS. Begitupula dengan PTN, Institiut, Politeknik, dan sebagainya,” paparnya.

Pada IAPS 4.0 ini juga lebih beriorientasi pada output dan outcome. Pengukuran mutu lebih dititikberatkan pada aspek proses, output dan outcome. Sementara instrumen sebelumnya lebih banyak mengukur aspek input. “Tadi pak Rektor sebutkan di Untag akreditasi prodi yang A harus 50%. Nah, itu janji pak rektor mencapai itu bagaimana caranya. Luaran itu harus dituliskan saat ini dan kedepan mau apa, dan itu biasanya diminta oleh assesor. Kalau janji saja, nilainya bisa turun. Jadi perbaikan harus terlihat dan tertulis,” jelasnya.

Prof. Johny menambahkan, “Tindak lanjut maupun simpulan hasil evaluasi selalu diminta untuk instrumen yang baru. Hal tersebut mempermudah asesor dan perguruan tinggi untuk melihat hasil capaiannya. Data apakah real dan apakah sudah tercapai, serta tindak lanjut kedepan bagaimana.”

Instrumen baru ini juga memiliki beberapa perbedaan yakni sebagai bagian integral dari CQI, unik untuk berbagai jenis institusi atau program: tidak mudah direkayasa, tidak mudah di scale up dan memerlukan kemampuan yang lebih tinggi dari asesor. “Dalam 9 kriteria IAPS 4.0 ini masing-masing memiliki 9 sub-bab pembahasan, jadi total ada sekitar 78an sub-bab dan itu banyak. Tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan bersama karena kalau sendiri tidak mungkin jadi,” pesannya. (ua)



Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :


Page generated in 1556018227.65 seconds.