Welcome to University Of 17 Agustus 1945 Surabaya

Mobile Version

SEMINAR MENCEGAH BANGKITNYA KEMBALI PAHAM KOMUNISME DI INDONESIA - BEM F. HUKUM UNTAG: PENEGAKAN KEADILAN KUNCI LUMPUHKAN PAHAM KOMUNISME


Kamis, 28 September 2017 - 13:47:13 WIB

Diposting oleh : Admin
Kategori: Untagtual - Dibaca: 421 kali


Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dan Forum Masyarakat Cinta Damai ( Forumcida Jatim) menggelar Seminar “Mencegah Bangkitnya Kembali Paham PKI di Indonesia”, Rabu, (9/27) di Ruang R. Ing. Sukonjono, Gedung Graha Wiyata Untag Surabaya. Seminar yang diikuti 150 orang mahasiswa Fakultas Hukum ini menghadirkan 3 narasumber: Dr. Andik Matulessy, M. Psi-Wakil Rektor I Untag Surabaya, Dr. Hufron S.H., M.H.-Dosen Fakultas Hukum Untag, serta Dr. Basuki Babusallam S.H., M.H., anggota DPRD Jatim.

Maraknya isu bangkitnya Partai Komunisme Indonesia (PKI) yang berlambangkan palu arit di Indonesia menjadi dasar diadakannya seminar ini. “Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang apa itu komunisme dan apa saja ajaran – ajaran komunisme itu. Sehingga mahasiswa nantinya akan lebih kritis terhadap isu – isu yang marak terjadi sekarang ini,” demikian dikatakan Dekan Fakultas Hukum, Dr. Otto Yudiato, SH. M.Hum dalam sambutannya.

Dimoderatori oleh Fujika Sena Oktavia - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Untag Surabaya, seminar diawali dengan pemaparan tentang pengertian komunisme oleh ketiga narasumber. Dalam pemaparannya, Dr. Hufron S.H., M.H. mengatakan, paham komunisme akan muncul dan bertumbuh subur jika tidak adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang tertuang dalam sila ke-5 Pancasila. Ironisnya, Pancasila di era sekarang justru banyak diremehkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Senada dengan itu, Andik Matulessy - Wakil Rektor I Untag Surabaya menekankan bahwa di Indonesia tidak boleh ada paham – paham yang tidak berlandaskan asas Pancasila karena Pancasila merupakan dasar ideologi dari Bangsa Indonesia.

Sementara, Dr. Basuki Babusallam S.H., M.H., mengatakan bahwa peristiwa G 30 S adalah peristiwa kebangsaan yang berproses dalam kehidupan masyarakat dan telah memberi warna kebangsaan kita, sehingga setiap orang mempunyai pandangan sendiri – sendiri dalam menyikapi peristiwa G 30 S tersebut. Ditambahkan oleh Dr. Basuki, tiga langkah kebangsaan meliputi belajar dari sejarah, teguh dalam ideologi bangsa, dan bersatu dalam menyongsong masa depan kebangsaan. Jika dilihat dari pandangan perspektif psikologi sosisal, komunisme merupakan upaya menebas nasionalisme. Ada satu periode ketika bangsa Indonesia mengalami krisis Nasionalisme, indikasinya, banyak orang yang malu mengakui diri sebagai bangsa Indonesia, memilih bekerja di luar negeri karena merasa tidak ada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ditambahkan oleh Dr. Andik Matulessy, di era informasi ini, keadaan diperburuk dengan banyaknya informasi yang salah (hoax) yang tersebar luas di media cetak, media ektronik dan juga sosial media.

Lalu bagaimana cara mengantisipasi meluasnya paham komunisme? “Salah satu caranya adalah menegakkan hukum yang adil dan beradab,” tegas Dr. Hufron S.H., M.H. ,”Pancasila harus di aktualisasikan dalam kehidupa sehari – hari dan dalam kehidupan berbagsa dan bernegara”. Dr. Hufron memandang ada 2 pendekatan yang bisa dilakukan untuk meredam maraknya kembali komunisme, yakni secara yuridis dan sosiologis. Secara Yuridis, pencegahan dan pemberantasan komunisme dilakukan dengan penegakkan hukum yang berdasarkan TAP MPRS XXV/1996, UU 27/1999, UU Parpol dan UU Ormas. Kemudian secara sosiologis dapat dilakukan dengan cara mengaktualisasikan nilai –nilai yang terkandung dalam Pancasila kedalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena Pancasila merupakan ideologi Negara terbuka yang dapat menyelesaikan segala persoalan bangsa termasuk kemiskinan dan ketimpangan sosial. Makna kesaktian Pancasila mewujud karena kemampuannya memberikan solusi atas semua persoalan yang melanda bangsa dan Negara Indonesia. (ad)



Terkait


0 Komentar :


Isi Komentar :